Menanti Pemimpin Tegas dan Berani

 

Menurut banyak tradisi, mulai Dayak hingga Tiongkok, naga memiliki sifat alami sebagai pemimpin dan penuntun jalan. Dalam kebudayaan Tiongkok, naga tak dianggap sebagai binatang ganas dan penuh ancaman, tetapi lebih merupakan binatang paling unggul di antara 12 shio binatang. Naga dianggap sari dari prinsip yang (unsur hawa positif) sehingga naga diyakini sebagai sumber kebijaksanaan dan kekuatan, simbol dari perubahan dan perbaikan.
Karena naga adalah jiwa perubahan, ia dianggap sebagai pengejawantahan harapan dan kehidupan. Bahkan, dalam ilmu peruntungan feng shui, naga dipercaya meniupkan tenaga chi, yakni napas kosmis yang diatur dalam bangunan untuk mendatangkan kesuksesan.

Dua hari lagi kita memasuki Tahun Naga Air, tahun tepat bagi tampilnya pemimpin yang berani, tegas, dan penuh semangat nasionalis merintis berbagai terobosan untuk membawa bangsa Indonesia keluar dari masalah kerakyatan dan ketertinggalan. Kepemimpinan di Tahun Naga harus mampu menjawab berbagai persoalan kebangsaan dengan ketegasan, keberanian, pengorbanan, dan semangat nasionalis yang memperhatikan aspirasi dan rasa keadilan masyarakat.

Berbeda dengan Tahun Kelinci yang lemah lembut dan penuh keraguan, Tahun Naga ini adalah tahun untuk menuntaskan dan menjawab berbagai persoalan yang jadi aspirasi dan rasa keadilan masyarakat dengan kepemimpinan yang tegas tersebut. Kasus Century, mafia hukum dan pajak, kelangkaan pangan, tingginya harga kebutuhan hidup, dan tetap lemahnya ekonomi sektor riil dan industri dalam negeri harus segera dituntaskan.

Tiga Soal Utama
Masalah keadilan dan kesejahteraan ini pula yang bisa disumbangkan oleh masyarakat Tionghoa untuk bangsa dan rakyatnya. Dengan semangat nasionalisme yang berkeadilan, kerja keras, dan gotong royong, semua anak bangsa harus mampu menjawab tiga persoalan utama bangsa ini: kemiskinan, ketidakadilan, dan ketidakdaulatan.

Kemiskinan harus dijawab dengan kemandirian ekonomi yang mengandalkan kekuatan anak bangsa Indonesia sendiri. Segala peraturan yang memperlemah kemandirian dan semakin meningkatkan ketergantungan kepada asing harus dikoreksi.

Kita yakin sepenuhnya bahwa ekonomi dan industri dalam negeri bisa kuat selama itu dijalankan oleh anak bangsa Indonesia sendiri. Gebrakan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), misalnya, harus mendapat dukungan sekaligus pengawalan bersama. Jangan sampai MP3EI justru jadi pintu masuk untuk melemahkan kemandirian dan memperkuat ketergantungan kepada asing. Kita tidak ingin MP3EI sama dengan ”Indonesia for Sale”. Namun, dengan semangat kepemimpinan yang tegas, nasionalis, gotong royong, dan penuh terobosan, serta bersatunya industriawan nasional, kita harus menjadikan MP3EI sebagai pintu mewujudkan ”Indonesia Incorporate” yang membanggakan.

Kepemimpinan yang tegas harus mampu menjawab ketidakadilan dengan kepastian dan ketegasan hukum yang berkeadilan. Saat ini, mental dan praktik korupsi sudah mengacak-acak keadilan hukum kita. Sebagai negara hukum, kita tidak dapat terus membiarkan bahwa hukum hanya berfungsi untuk menghukum kasus-kasus kecil dan orang kecil, sebaliknya membebaskan kasus besar dan orang besar.

Sementara itu, ketidakdaulatan harus dilakukan dengan mengevaluasi semua peraturan dan UU yang tidak konsisten dengan empat pilar kebangsaan kita, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Ada begitu banyak UU yang menggerogoti kita sebagai bangsa yang berdaulat. Hal-hal mendasar yang menyangkut kesejahteraan rakyat telah diserahkan kepada asing dan pasar. Seakan negara dan pemerintah tidak lagi punya kewajiban menjamin hak kesejahteraan rakyat.

Kepemimpinan yang tegas, berani, serta memiliki semangat nasionalisme dan keadilan ini akan selalu hadir dalam setiap persoalan yang dihadapi rakyat dan bangsanya. Kepemimpinan semacam itu yang saat ini dinantikan oleh segenap rakyat Indonesia. Suatu kepemimpinan yang mampu menghadirkan pemerintah dan negara di dalam persoalan kerakyatan, khususnya dalam menjawab rasa keadilan, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsa.

Oleh karena itu, Tahun Naga adalah juga momentum bagi the outsiders—meminjam istilah Herbert Marcuse—sebagai momentum bagi mereka yang berani berdiri di luar berbagai kebobrokan yang ada saat ini. Momentum bagi mereka yang terus bergerak dengan tulus demi bangsanya, berani melawan arus, tanpa peduli akan dikenang ataupun dihina.
Mereka adalah sosok-sosok yang mampu menangkap berbagai potensi yang dimiliki bangsa ini untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Segenap anak bangsa yang memiliki semangat yang sama ini harus mulai tampil menggeliat untuk bekerja bahu-membahu bersama the outsiders lain untuk membawa bangsa Indonesia mencapai kemajuan sesuai amanat konstitusi: UUD 1945.

Indonesia memiliki segala potensi untuk menjadi ”Naga Asia” yang dikagumi oleh bangsa-bangsa di dunia. Akan tetapi, itu semua akan terwujud bila bangsa ini memiliki pemimpin-pemimpin yang tegas dan berani. Kepemimpinan seperti itulah yang ditunggu rakyat dan sejarah.

Daniel Johan,
DIREKTUR INSTITUTE OF NATIONAL LEADERSHIP AND PUBLIC POLICY
Sumber: Kompas, 21 Januari 2012

 

Additional information